Selasa, 29 September 2015

Bapakku Superman

Oleh: AH. BUHANUDIN

Tidur panjang telah kulalui, tetiba terbelalak kedua mata, tanpa alasan jelas turut bangkit pula  kesadaran tentang rasa ketuhanan dalam hati.

Seiring kumandang adzan subuh, semilir dingin angin merambat masuk mengusik ketenangan dua jasad manusia kesayanganku.

Beberapa detik berlalu, terdengar batuk yang menyayat hati seakan menahan beban berat kehidupan, seorang lelaki tua yang telah kenyang makan asam garam dunia, merasakan pahit getir kehidupan untuk membesarkan ke-tiga anaknya, siapakah dia?, tidak lain dan tidak bukan Dia adalah bapakku.

Bapak, mungkin namamu tidak semulia ibu, tidak seterkenal Ibu yang sampai disebut oleh Nabi  tiga kali untuk kami hormati, bahkan surga pun diibaratkan ada di telapak kaki. Tetapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat untukmu, karena ku tahu sejarah perjuangan, kesulitan, dan kelelahanmu.

***

Pikiran aneh mulai terbang mengelana dalam balutan dingin udara pagi.
Gejolak dalam hati mulai muncul, mencoba mengingat dan membuka kembali bukti  kemulyaan dan tanggung jawabmu kepada keluarga.

Lima belas tahun silam, Bapak adalah pribadi yang riang, murah senyum dan mudah dalam berkomunikasi dengan orang.

Pengusaha telur dan peternak ayam broiler kelas menengah yang notabene bisa dibilang hampir setengah mapan. Namun, apa mau dikata untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, usaha peternakan yang telah dirintis sejak Aku belum lahir porak-poranda dalam hitungan hari.

Masih teringat jelas musibah itu, flu burung yang menjadi kambing hitam atas kematian sebagian ayam ternak kami, tetapi kulihat sosok pria tua itu tetap tegar dan sadar bahwa,  itu hanya salah satu sebab yang diturunkan oleh Ilahi untuk menguji iman,  selanjutnya sisa ayam yang masih hidup dijual dan digunakan untuk membeli seekor sapi betina.

Babak baru dalam keluarga kami dimulai, bermodal motor butut yang tersisa, sekarang bapak menjadi penjual telur keliling. Takdir mulai berubah, gaya hidup tetap sama tetapi sumber pemasukan berkurang, secara otomatis mengakibatkan  dapur rumah yang biasanya serba berkecukupan hari ini terasa sudah mulai goyah.

Ibu, wanita yang biasanya sangat tegar, kali ini  sangat terkena dampak musibah ini, sosok yang biasanya terlihat tenang memikirkan kebutuhan sekolah dan hidup kami, sekarang  mulai memutar otak untuk mencukupi ekonomi keluarga.

Desakan kebutuhan dan tuntutan ekonomi memaksa  perempuan yang diciptakan penuh dengan kelembutan ini menyokong kehidupan ekonomi keluarga, berbekal hati yang tulus, beliau memutuskan bekerja sebagai buruh tani.

"Kasih sayang Alloh pada kami sudah hilang," itulah yang terbersit di benakku saat itu.

***

Seperti biasa, Pagi itu Bapak berangkat  berjualan, sekitar jam sepuluh siang seorang polisi datang kerumah, mengabarkan pada Ibu bahwa, bapak telah berada di rumah sakit karena kecelakaan. Bak disambar petir di siang bolong,  kabar itu semakin membuat susah hati wanita berhati suci ini. Musibah mengakibatkan  motor dan rombong jualan Bapak hancur.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan keluarga kami, usaha sudah hancur mencoba berwirausaha kecil-kecilan pun tertimpa musibah pula.

Satu bulan berselang, luka fisik di tubuh bapak sudah agak membaik, tetapi nampak ada perubahan yang terjadi pada psikis Bapak, sekarang beliau tidak berani naik sepeda motor.
"Mungkin ini kehendak Alloh agar bapak beralih profesi." Gumamku dalam hati.

Wajah yang dulu tangguh dan penuh semangat sekarang terlihat mulai agak kusut dan kumal tertimpa cobaan yang bertubi-tubi. dalam kondisi badan yang tertatih-tatih dan sisa-sisa tenaga Beliau tetap berusaha untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Modal keluarga yang ada sekarang tinggal seekor sapi, sepetak tanah sawah warisan kakek dan sepeda ontel butut.

Bapak, pria yang dari kecil terkenal pekerja keras ini tidak pantang menyerah, beliau bertahan dengan kesabaran, hingga beberapa tahun berlalu sapi yang dimiliki berjumlah lima ekor.

Kehidupan ekonomi keluarga mulai berjalan agak longgar, karena empat sapi milik Bapak dijual dan dibelikan sepetak sawah milik tetangga. Sawah yang dibeli cukup membantu ekonomi keluarga dan Ibu pin tidak perlu bekerja sebagai buruh tani.

Seakan Alloh mulai mengangkat cobaan bagi keluarga kami, beriringan pula dengan hal tersebut, Sekolahku telah tamat berarti satu beban Ibu pun berkurang lagi.

Itulah sebagian cerita keluarga kami, Bapak, lelaki tangguh bermental baja tak perduli apapun keadaan diri, yang terpenting kebutuhan anak dan istri bisa tercukupi.

End
Kediri, 290915