Oleh : AH. BURHANUDIN
"Alhamdulillah, ahirnya kau turunkan hujan, Ya Alloh ...," bisik wanita yang telah lelah melewati kehidupan selama 60 tahun.
Amanah-nenekku, hatinya gundah hanya bisa pasrah setelah berminggu-minggu sawah sepetaknya tidak mendapat air.
Musim ini merupakan musim baru bagi Indonesia, setelah ada musim hujan, musim kemarau dan saat ini muncul musim asap.
Sempat bangsa ini dibuat bingung oleh mahkluk yang disebut asap, sampai manusia sekelas presiden pun dibuat pusing delapan keliling olehnya.
Berbondong-bondong negara tetangga berbelas kasihan, berusaha menghilangkan hasil karya monumental bangsa besar kita, dalam hati kecil berbisik, "Subhanalloh ... ahirnya ada salah satu karya anak bangsa yang Go-Internasional membuat negara kita disegani negara tetangga, kita patut "berbangga" karna berpuluh-puluh tahun kita tidak menghasilkan produk yang dikenal dunia."
Namun, apalah daya semua usaha yang dilakukan ibarat pungguk merindukan bulan atau dalam kata lain ibarat pepatah asam digunung dan garam di laut, apa artinya itu? Artinya kedua pepatah yang saya buat tidak ada yang nyambung dengan keadaan yang terjadi. Ya ... memang itulah yang saya maksud, semua usaha yang dilakukan tidak ada yang nyambung dengan inti masalah sebenarnya.
Koin demi koin pernah juga dikumpulkan rakyat untuk membantu pemerintah menghilangkan Asap, mungkin terutama Asap yang berada di hati para pemimpin negeri ini yang mulai menjadikan beliau-beliau tertutupi sanubarinya. bahkan kabut asap ini meracuni nurani Bapak kami dalam membuat kebijakan sehingga hasilnya pun menyesakkan dada rakyat, namun, apalah daya koin itu juga tidak berguna. Si Asap malah meraja lela. Memang bandel benar mahluk ini.
Ya ... Mungkin Alloh belum ingin menghilangkan asap ini dari negeri kita, karena ingin menunjukan pada kita bahwa inilah kita, seonggok tulang yang berbalut daging tidak punya daya dan upaya.
Meskipun berkumpul manusia sedunia untuk memadamkan asap, jika Alloh tidak mengijinkan padam niscaya tidak padam itu asap.
Seiring turunnya hujan sore, harapan baru telah datang, kulihat senyuman bahagia di hati Nenek. Penuh harap dan do'a, "Tidak banyak pintaku kepadamu Ya Alloh, selamatkan anak cucuku dan negeri ini"
#Kunjang-kediri, 281015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar