"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar," menggema di seluruh langit desaku.
Masih jelas teringat, kegembiraan malam Idul Fitri dua ribu tiga belas silam, selepas sholat Magrib keluarga kecil kami berkumpul diteras rumah, bercengkrama bercerita tentang berbagai hal yang tidak begitu penting.
Sejak sore tadi istriku mengeluhkan perut dan punggungnya yang agak kaku.
"Pijiti kajiku, Mas!" beberapa kali merengek meminta diurut tetapi tidak begitu kuhiraukan.
‘Ya ... maklumlah saat itu sedang hamil 8 bulan, bawaannya tiap waktu pengen dipijit terus,' pikirku.
#
Kehamilan istriku ini merupakan kehamilan pertama. Terhitung sudah sepuluh bulan sejak pernikahan kami. Alhamdulillah ... setelah dua bulan menikah telah dikaruniai kehamilan oleh Allah.
Banyak cerita unik seputar kehamilan ini, dua puluh delapan oktober dua ribu tiga belas pernikahan kami berlangsung. Tanpa janjian, pernikahan ini bersamaan pula dengan pernikahan Tarlim teman kerjaku waktu di Surabaya dulu.
Konon dalam adat Jawa seseorang yang akan menjadi pengantin ada masa pingit, yaitu keadaan dimana seseorang yang akan menikah tidak boleh pergi jauh selama tiga puluh lima hari, baik sebelum atau pun setelah menikah, dalam istilah jawa biasanya disebut waktu selapan.
Sebenarnya hati berontak dan tidak percaya akan aturan tidak tertulis orang jawa ini, tetapi kalimat larangan itu keluarnya dari mulut ibuku. Berarti larangan ini bak sabda raja, mau tidak mau, setuju tidak setuju harus kuiyakan. Cukup ucapan selamat saja dari handpone saling kami ucapkan.
#
Satu bulan berselang aku dan Tarlim hampir tidak ada komunikasi, hingga pada suatu waktu,
"Kring ... kring ... kring ...," handpone butut membangunkan tidur soreku.
"Assalamualaikum ...," ucapku masih setengah sadar.
"Wa alaikum salam ... jadi orang kerjaannya kok tidur terus, kapan kayamu, Han!" Suara tarlim yang tidak asing di telingaku.
"Gimana, Han? Sudah ada hasilnya, kah?" tanya Tarlim sambil nyindir.
"Hasil apa, Mbut?" kutimpali pertanyaannya dengan nama julukan khas Tarlim.
"Woii ... bangun! Orang nikah apalagi hasilnya kalau tidak anak," jawabnya ketus.
"Belum ada tanda-tanda, Lim. Istrimu gimana?" sahutku sambil penasaran.
"Alhamdulillah sudah positif hamil, Han. Jelek-jelek begini tapi tok cer, lo! Ha ... ha ... ha ...," tawanya renyah sembari mengejek.
Obrolan terus berlanjut, hingga ahirnya telpon kututup dengan ucapan selamat atas kehamilan istrinya.
Pernikahan kami seumpama dihitung memang sudah satu bulan. ‘Ya ... pantaslah kalau istri Tarlim hamil,’ batinku.
Tetapi sejak kabar itu terdengar, terjadilah pergolakan dan pertanyaan besar dalam hati 'kenapa istriku belum hamil?'
'Apakah aku mandul?'
'Apakah ada masalah dengan alat reproduksiku dan istriku?'
Hampir tiap waktu pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui, akhirnya saat ngobrol tanpa sadar terucap pertanyaan pada istriku.
"Ada apa ya, Dik? Tarlim nikahnya bareng dengan kita istrinya sudah hamil duluan, kita kok belum ada tanda-tanda apapun. Apa kita periksa aja ke dokter?"
"Ya Allah, Mas! Baru satu bulan aja udah bingung, masih lumrah tau!, menurut temanku, kalo masih di bawah satu tahun ditunggu aja gak usah periksa dulu. Baru kalo udah dua tahun kita periksa," jawabnya sambil meringis.
'Bener juga, ya!' gumamku.
#
"Huwek ... huwek ... huwek ...," terdengar suara istriku dari kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, langsung masuk ke kamar terlihat pucat dan sayu wajahnya.
"Masuk angin, Dek?" tanyaku.
"Gak taulah, Mas. Dari kemarin gak enak badan," sahutnya.
"Sini kupijiti," sergahku sambil kupijiti
kasihan melihatnya lemas.
"Aku udah telat seminggu, Mas," ucapan istriku membuat kaget.
"Beneran, Dek?" tanyaku meyakinkan.
"Iya ... bener , Mas!" jawabnya mantap.
"Alhamdulillah ... semoga kamu hamil ya, Dek.” ujarku semangat
“Biar tambah yakin, nanti sore aku tak beli test pack," lanjutku.
Bahagia hati tiada dapat digambarkan, tetapi kebahagiaan ini belum berani aku sampaikan kepada ibu dan bapak karena menunggu kepastian hasil testpack nanti sore.
Sore hari menjelang aku pun langsung bergegas untuk beli testpack di apotek. Dan ternyata benar, menurut alat tersebut istriku memang benar positif hamil.
#
Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan berlalu. Keadaan fisik istriku semakin sering sakit ringan mulai dari sering mual dan muntah.
Anehnya lagi hidungnya pun semakin sensitif terhadap bau apapun, bahkan yang tidak tercium olehku dia dapat menciumnya.
Pada saat itu kudari bahwa perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan buah hati memang tidak mudah, yang pasti tiap hari harus menghadapi derita kondisi fisik yang sangat berat.
Akibat kehamilan ini banyak terjadi perubahan yang signifikan dalam hidup kami. Diantaranya pada istriku, karena saking ingin punya anak yang sholeh, sejak hamil setiap hari hidupnya pasti tidak lepas dari bacaan Al Qur'an.
Kejadian yang paling luar biasa menurutku saat masa kehamilan tujuh ke delapan bulan, waktu itu bertepatan dengan bulan puasa.
Subhanallah ... jabang bayi yang dikandungnya tidak pernah rewel saat diajak puasa, sehingga istriku pun kuat untuk melakukan puasa penuh sampai akhir Ramadhan. Dan inilah puasa pertama dalam hidupnya dapat utuh awal sampai akhir.
Bersamaan dengan keanehan itu, istriku bercerita bahwa dalam satu bulan ini, dia sudah menghatamkan Al quran tiga puluh juz.
Ya ... memang sesuatu yang diluar kebiasaan.
‘Kau jabang bayi pasti akan menjadi orang yang luar biasa nanti, Nak,' do'aku dalam batin.
Dua belas agustus dua ribu tiga belas, tepat jam setengah dua pagi bertepatan dengan tanggal satu Syawal. Selepas dari kamar mandi, dari rahim istriku muncul cairan putih pekat bercampur darah. Rasanya tidak sakit tetapi cairan itu tidak mau berhenti.
"Gimana ini, Mas?" tanya istriku bingung.
"Jam segini mana ada bidan yang buka, Dek?, kita tunggu agak pagi aja, buat tidur aja dulu, siapa tahu nanti sembuh," jawabku sambil menahan kantuk.
Setelah kejadian itu, yah ... namanya orang baru pertama hamil belum mengerti apapun, istriku pun tidur lagi.
setelah satu jam berlalu barulah aku berani bilang pada ibu bahwa istriku mengeluarkan cairan aneh bercampur darah.
"Cepet bawa ke bidan, tanda-tanda akan melahirkan itu, Nak!" perintah ibu.
Tanpa berlama-lama aku kembali ke kamar dan bersiap-siap menuju rumah bidan tempat periksa. Saking gugupnya tidak terasa kaki menendang dua botol bensin sampai pecah.
Sampai di rumah bidan, langsung diperiksa dan Bu bidan bilang, "Maaf Pak, ketuban ibu sudah pecah, ini harus dirujuk ke rumah sakit."
Kaget bukan kepalang, kami iyakan saja saran bu bidan. Tanpa persiapan apapun kami berdua pulang, sesampainya di rumah kami meminta izin ibu dan langsung berangkat menuju ke rumah sakit.
Sekitar jam setengah lima pagi jalanan terasa lengang, tiada satu pun kendaraan lewat, mungkin karena semua orang sibuk bersiap sholat Idul Fitri.
Mulut komat-kamit membaca do'a yang bisa dibaca, sambil menyetir motor kuselingi dengan senda gurau untuk menghilangkan gundah dalam hati istriku.
Setengah jam perjalanan kulewati, sampai di rumah sakit langsung disediakan kursi roda oleh perawat.
"Silahkan duduk, Bu!" pinta salah satu perawat.
Langsung dibawa ke ruang bersalin. Setelah melengkapi persaratan dan administrasi, tidak begitu lama kususul ke kamar.
Setelah keadaan agak tenang baru teringat bahwa mertua belum kukabari, bergegas langsung kutelpon dan sejurus kemudian mereka segera berangkat ke rumah sakit.
#
"Untung Bapak segera membawa ibu kesini, pecah ketuban itu bahaya lo, Pak! Apalagi kalau cairannya sampai habis, maka harus operasi," celetuk salah seorang perawat padaku.
'Astagfirullah ... Apa jadinya kalau tadi malam cairannya sampai habis, padahal tadi malam istriku kusuruh tidur lagi,' ucap dalam hati sambil mengelus dada ku sendiri.
Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda jabang bayi mau keluar, dengan persetujuan ku akhirnya bidan rumah sakit memberikan cairan perangsang agar bayi cepat keluar.
Tidak lama cairan perangsang dipasang bersama infus, terlihat wajah istriku mulai merasakan nyeri di perut sampai tembus punggung.
Semakin lama rasa nyeri itu semakin bertambah hebat, ikut menetes air mataku dan ibu mertua melihat penderitaannya.
"Allah ... Allah ... Allah ...," terucap berulang kali dari mulutnya.
"Semua yang menunggu dimohon keluar, agar tidak mengganggu proses persalinan!" ucap perawat.
Mau tidak mau, tega tidak tega kutinggalkan istriku di dalam ruang bersalin berjuang bersama para perawat.
Berat hati kulangkahkan kaki keluar ruangan, bersamaan dengan panggilan suara takbir yang menarik langkah kakiku menuju masjid sebelah rumah sakit.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... , laa ila ha illallah hu Allahu akbar, Allahu akbar wa lilla hi al hamd," panggilan suara takbir bilal masjid.
Di tengah barisan jama'ah sholat Idul Fitri, tanpa dapat dibendung berderai air mata, tangis bukan karena keharuan Idul Fitri, tapi tangis karena membayangkan perjuangan istriku.
Hati serasa sangat dekat sekali dengan Allah. Detik demi detik berisi lantunan do'a untuk keselamatan istri dan si jabang bayi. Jam delapan lebih seperempat selesailah rangkaian sholat Idul Fitri, kembali langkahku tertuju ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit terdengar erangan istriku menahan sakit, tidak tahan mendengarnya langsung aku menuju mushola rumah sakit untuk sholat dua rokaat dan berdo'a agar persalinan diberi kelancaran.
Selesai sholat langsung kembali menuju ruang bersalin. Tidak lama kemudian terdengarlah suara tangisan bayi dalam ruangan. Tanpa dikomando langsung kusungkurkan wajah ke ubin lantai rumah sakit, bersujud syukur atas kelahiran anak pertamaku.
Sejenak kemudian seorang perawat menggendong bayi mungil berbalut kain, seberat dua kilo tujuh ons dan panjang empat puluh tujuh centimeter.
"Selamat ... anak anda laki-laki, Pak," ucapnya santun.
"Makasih, Bu," sahutku.
Setelah melihat istriku sehat, segera kugendong bayi mungil itu, dan kulantunkan suara adzan yang tidak begitu merdu di telinganya. untung anak ini masih bayi, seumpama sudah besar, bisa berpikir, dan mendengar pasti dia bilang, “suara Bapak jelek.”
Beribu kegembiraan dan rasa syukur terlihat di seluruh wajah yang ada disana. Bapak, ibu, adik dan mertua semuanya bahagia. Berkah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini begitu terasa bagi kami sekeluarga.