Oleh : AH. Burhanudin
Tidur panjang telah
kulalui, tetiba terbelalak kedua mata, tanpa alasan jelas turut bangkit
pula kesadaran tentang rasa ketuhanan
dalam hati. Seiring kumandang adzan subuh, semilir dingin angin merambat masuk
mengusik ketenangan dua jasad manusia kesayanganku.
Beberapa detik berlalu,
terdengar batuk menyayat hati seakan menahan beban berat kehidupan, seorang
lelaki tua yang telah kenyang makan asam garam dunia, merasakan pahit getir
kehidupan untuk membesarkan ke-tiga anaknya, siapakah dia?, tidak lain dan
tidak bukan Dia adalah bapakku.
Bapak, mungkin namamu
tidak semulia ibu, tidak seterkenal ibu yang sampai disebut oleh Nabi tiga kali untuk kami hormati, bahkan surga
pun diibaratkan ada di telapak kaki. Tetapi hal itu tidak mengurangi sedikit
pun rasa hormat untukmu, karena ku tahu sejarah perjuangan, kesulitan, dan
kelelahanmu.
***
Pikiran aneh mulai
terbang mengelana dalam balutan dingin udara pagi. Gejolak dalam hati mulai
muncul, mencoba mengingat dan membuka kembali bukti kemulyaan dan tanggung jawabmu kepada
keluarga.
Lima belas tahun silam,
Bapak adalah pribadi yang riang, murah senyum dan mudah dalam berkomunikasi
dengan orang. Pengusaha telur dan peternak ayam broiler kelas menengah yang
notabene bisa dibilang hampir setengah mapan. Namun, apa mau dikata untung tak
dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, usaha peternakan yang telah dirintis
sejak Aku belum lahir porak-poranda dalam hitungan hari.
Masih teringat jelas
musibah itu, flu burung yang menjadi kambing hitam atas kematian sebagian ayam
ternak kami, tetapi kulihat sosok pria tua itu tetap tegar dan sadar bahwa itu hanya salah satu sebab yang diturunkan
oleh Ilahi untuk menguji iman,
selanjutnya sisa ayam yang masih hidup dijual dan digunakan untuk
membeli seekor sapi betina.
Babak baru dalam
keluarga kami dimulai, bermodal motor butut yang tersisa sekarang bapak menjadi
penjual telur keliling. Takdir mulai berubah, gaya hidup tetap sama tetapi
sumber pemasukan berkurang, secara otomatis mengakibatkan dapur rumah yang biasanya serba berkecukupan
hari ini terasa sudah mulai goyah.
Ibu, wanita yang
biasanya sangat tegar, kali ini sangat
terkena dampak musibah ini. Sosok yang biasanya terlihat tenang memikirkan
kebutuhan sekolah dan hidup kami, sekarang
mulai memutar otak untuk mencukupi ekonomi keluarga.
Desakan kebutuhan dan
tuntutan ekonomi memaksa perempuan yang
diciptakan penuh dengan kelembutan ini menyokong kehidupan ekonomi keluarga,
berbekal hati yang tulus, beliau memutuskan bekerja sebagai buruh tani.
‘Kasih sayang Alloh
pada kami sudah hilang,’ bersit di benakku saat itu.
***
Seperti biasa, Pagi itu
bapak berangkat berjualan, sekitar jam
sepuluh siang seorang polisi datang kerumah mengabarkan pada ibu bahwa, bapak
telah berada di rumah sakit karena kecelakaan. Bak disambar petir di siang
bolong, kabar itu semakin membuat susah
hati wanita berhati suci ini. Musibah mengakibatkan motor dan rombong jualan bapak hancur.
Sudah jatuh tertimpa
tangga pula, mungkin peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan
keluarga kami, usaha sudah hancur mencoba berwirausaha kecil-kecilan pun
tertimpa musibah pula.
Satu bulan berselang,
luka fisik di tubuh bapak sudah agak membaik, tetapi nampak ada perubahan yang
terjadi pada psikis Bapak, sekarang beliau tidak berani naik sepeda motor.
‘Mungkin ini kehendak
Alloh agar bapak beralih profesi.’ Gumamku dalam hati.
Wajah yang dulu tangguh
dan penuh semangat sekarang terlihat mulai agak kusut dan kumal karena dihantam
berbagai cobaan yang bertubi-tubi. dalam kondisi badan yang tertatih-tatih dan
sisa-sisa tenaga, beliau tetap berusaha untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Modal keluarga yang ada
sekarang tinggal seekor sapi, sepetak tanah sawah warisan kakek, dan sepeda
ontel butut. Bapak pria yang dari kecil
terkenal pekerja keras ini tidak pantang menyerah, beliau bertahan dengan
kesabaran, hingga beberapa tahun berlalu sapi yang dimiliki berjumlah lima
ekor.
Kehidupan ekonomi
keluarga mulai berjalan agak longgar, karena empat sapi milik bapak dijual dan
dibelikan sepetak sawah milik tetangga. Alhamdulillah ... sawah yang dibeli
dapat membantu ekonomi keluarga, dan ibu pun tidak perlu bekerja sebagai buruh
tani lagi.
Seakan Allah mulai
mengangkat cobaan bagi keluarga kami, beriringan pula dengan hal tersebut,
Sekolahku pun telah tamat berarti satu beban ibu berkurang lagi. Itulah
sebagian cerita keluarga kami. Bapak, lelaki tangguh bermental baja tak perduli
apapun keadaan diri, yang terpenting kebutuhan anak dan istri bisa tercukupi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar