Terasa dingin pagi ini,
semilir AC(Angin Cendela) dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter, diiringi
lantunan suara merdu kicauan burung
melantunkan pujian rasa syukur kepada Tuhan. Serta merta kulirik wajah jam
dinding menunjukkan pukul lima tepat.
Hal pertama yang
kulakukan pagi ini adalah memandang wajah mungil anak laki-laki berusia dua
tahun yang sedang terbaring baru sembuh
dari sakitnya.
"Besok besar akan
Jadi apa kau, Nak?" bisikku.
Pertanyaan itulah yang
tiap hari selalu terngiang-ngiang di
benakku.
Usapan dan belaian
lembut kudaratkan pada rambut kepalanya seraya terpanjat pesan dan do'a,
"Jadi apapun dirimu kelak, Nak!. Yang
terpenting jadilah orang jujur dan baik,
jangan contoh keburukan bapakmu ini". Sergahku.
Belum selesai do'a dan
pesan kuucapkan, terdengarlah suara merdu dan menggelegar dari sudut kamar
mandi dapur rumah
"Bi ... Udah jam
enam, ayo bantu jemur pakaiannya, dong!, umi kan udah selesai nyucinya, nanti
telat berangkat kerja umi yang
disalahin"
Gubrak!!
Serasa disambar petir,
perasaan hati mulanya jadi Seorang Jendral dalam sedetik sekonyong-konyong berubah
menjadi seorang prajurit berpangkat Kopral,
Tatkala komando
pimpinan sudah dikumandangkan untuk menuju medan perang, tanpa ba-bi-bu
bergegas sarung kurapatkan. Sembari lari
tidak lupa kudaratkan kecupan manis di kedua pipi buah hatiku sebagai semangat memulai menjemur baju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar