Senin, 30 November 2015

Pagi yang Tak Terbeli

Terasa dingin pagi ini, semilir AC(Angin Cendela) dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter, diiringi lantunan suara  merdu kicauan burung melantunkan pujian rasa syukur kepada Tuhan. Serta merta kulirik wajah jam dinding menunjukkan pukul lima tepat.

Hal pertama yang kulakukan pagi ini adalah memandang wajah mungil anak laki-laki berusia dua tahun yang sedang  terbaring baru sembuh dari sakitnya.

"Besok besar akan Jadi apa kau, Nak?" bisikku.

Pertanyaan itulah yang tiap hari selalu  terngiang-ngiang di benakku.
Usapan dan belaian lembut kudaratkan pada rambut kepalanya seraya terpanjat  pesan dan do'a,

 "Jadi apapun dirimu kelak, Nak!. Yang terpenting jadilah orang  jujur dan baik, jangan contoh keburukan bapakmu ini". Sergahku.

Belum selesai do'a dan pesan kuucapkan, terdengarlah suara merdu dan menggelegar dari sudut kamar mandi dapur rumah

"Bi ... Udah jam enam, ayo bantu jemur pakaiannya, dong!, umi kan udah selesai nyucinya, nanti telat  berangkat kerja umi yang disalahin"

Gubrak!!

Serasa disambar petir, perasaan hati mulanya jadi Seorang Jendral dalam sedetik  sekonyong-konyong  berubah  menjadi seorang prajurit berpangkat Kopral,

Tatkala komando pimpinan sudah dikumandangkan untuk menuju medan perang, tanpa ba-bi-bu bergegas sarung kurapatkan. Sembari  lari tidak lupa kudaratkan kecupan manis di kedua pipi buah hatiku  sebagai semangat memulai menjemur baju.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar