Senin, 30 November 2015

Pagi yang Tak Terbeli

Terasa dingin pagi ini, semilir AC(Angin Cendela) dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter, diiringi lantunan suara  merdu kicauan burung melantunkan pujian rasa syukur kepada Tuhan. Serta merta kulirik wajah jam dinding menunjukkan pukul lima tepat.

Hal pertama yang kulakukan pagi ini adalah memandang wajah mungil anak laki-laki berusia dua tahun yang sedang  terbaring baru sembuh dari sakitnya.

"Besok besar akan Jadi apa kau, Nak?" bisikku.

Pertanyaan itulah yang tiap hari selalu  terngiang-ngiang di benakku.
Usapan dan belaian lembut kudaratkan pada rambut kepalanya seraya terpanjat  pesan dan do'a,

 "Jadi apapun dirimu kelak, Nak!. Yang terpenting jadilah orang  jujur dan baik, jangan contoh keburukan bapakmu ini". Sergahku.

Belum selesai do'a dan pesan kuucapkan, terdengarlah suara merdu dan menggelegar dari sudut kamar mandi dapur rumah

"Bi ... Udah jam enam, ayo bantu jemur pakaiannya, dong!, umi kan udah selesai nyucinya, nanti telat  berangkat kerja umi yang disalahin"

Gubrak!!

Serasa disambar petir, perasaan hati mulanya jadi Seorang Jendral dalam sedetik  sekonyong-konyong  berubah  menjadi seorang prajurit berpangkat Kopral,

Tatkala komando pimpinan sudah dikumandangkan untuk menuju medan perang, tanpa ba-bi-bu bergegas sarung kurapatkan. Sembari  lari tidak lupa kudaratkan kecupan manis di kedua pipi buah hatiku  sebagai semangat memulai menjemur baju.


Minggu, 29 November 2015

Telapak Kaki Surga

"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar," menggema di seluruh langit desaku.
Masih jelas teringat, kegembiraan malam Idul Fitri dua ribu tiga belas silam, selepas sholat Magrib keluarga kecil kami berkumpul diteras rumah, bercengkrama bercerita tentang berbagai hal yang tidak begitu penting.
Sejak sore tadi istriku mengeluhkan perut dan punggungnya yang agak kaku.
"Pijiti kajiku, Mas!" beberapa kali merengek meminta diurut tetapi tidak begitu kuhiraukan.
‘Ya ... maklumlah saat itu sedang hamil 8 bulan, bawaannya tiap waktu pengen dipijit terus,' pikirku.

#

Kehamilan istriku ini merupakan kehamilan pertama. Terhitung sudah sepuluh bulan sejak pernikahan kami. Alhamdulillah ... setelah dua bulan menikah telah dikaruniai kehamilan oleh Allah.
Banyak cerita unik seputar kehamilan ini, dua puluh delapan oktober dua ribu tiga belas pernikahan kami berlangsung. Tanpa janjian, pernikahan ini bersamaan pula dengan pernikahan Tarlim teman kerjaku waktu di Surabaya dulu.
Konon dalam adat Jawa seseorang yang akan menjadi pengantin ada masa pingit, yaitu keadaan dimana seseorang yang akan menikah tidak boleh pergi jauh selama tiga puluh lima hari, baik sebelum atau pun setelah menikah, dalam istilah jawa biasanya disebut waktu selapan.
Sebenarnya hati berontak dan tidak percaya akan aturan tidak tertulis orang jawa ini, tetapi kalimat larangan itu keluarnya dari mulut ibuku. Berarti larangan ini bak sabda raja, mau tidak mau, setuju tidak setuju harus kuiyakan. Cukup ucapan selamat saja dari handpone saling kami ucapkan.

#

Satu bulan berselang aku dan Tarlim hampir tidak ada komunikasi, hingga pada suatu waktu,
"Kring ... kring ... kring ...," handpone butut membangunkan tidur soreku.
"Assalamualaikum ...," ucapku masih setengah sadar.
"Wa alaikum salam ... jadi orang kerjaannya kok tidur terus, kapan kayamu, Han!" Suara tarlim yang tidak asing di telingaku.
"Gimana, Han? Sudah ada hasilnya, kah?" tanya Tarlim sambil nyindir.
"Hasil apa, Mbut?" kutimpali pertanyaannya dengan nama julukan khas Tarlim.
"Woii ... bangun! Orang nikah apalagi hasilnya kalau tidak anak," jawabnya ketus.
"Belum ada tanda-tanda, Lim. Istrimu gimana?" sahutku sambil penasaran.
"Alhamdulillah sudah positif hamil, Han. Jelek-jelek begini tapi tok cer, lo! Ha ... ha ... ha ...," tawanya renyah sembari mengejek.
Obrolan terus berlanjut, hingga ahirnya telpon kututup dengan ucapan selamat atas kehamilan istrinya.
Pernikahan kami seumpama dihitung memang sudah satu bulan. ‘Ya ... pantaslah kalau istri Tarlim hamil,’ batinku.
Tetapi sejak kabar itu terdengar, terjadilah pergolakan dan pertanyaan besar dalam hati 'kenapa istriku belum hamil?'
'Apakah aku mandul?'
'Apakah ada masalah dengan alat reproduksiku dan istriku?'
Hampir tiap waktu pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui, akhirnya saat ngobrol tanpa sadar terucap pertanyaan pada istriku.
"Ada apa ya, Dik? Tarlim nikahnya bareng dengan kita istrinya sudah hamil duluan, kita kok belum ada tanda-tanda apapun. Apa kita periksa aja ke dokter?"
"Ya Allah, Mas! Baru satu bulan aja udah bingung, masih lumrah tau!, menurut temanku, kalo masih di bawah satu tahun ditunggu aja gak usah periksa dulu. Baru kalo udah dua tahun kita periksa," jawabnya sambil meringis.
'Bener juga, ya!' gumamku.

#

"Huwek ... huwek ... huwek ...," terdengar suara istriku dari kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, langsung masuk ke kamar terlihat pucat dan sayu wajahnya.
"Masuk angin, Dek?" tanyaku.
"Gak taulah, Mas. Dari kemarin gak enak badan," sahutnya.
"Sini kupijiti," sergahku sambil kupijiti
kasihan melihatnya lemas.
"Aku udah telat seminggu, Mas," ucapan istriku membuat kaget.
"Beneran, Dek?" tanyaku meyakinkan.
"Iya ... bener , Mas!" jawabnya mantap.
"Alhamdulillah ... semoga kamu hamil ya, Dek.” ujarku semangat
“Biar tambah yakin, nanti sore aku tak beli test pack," lanjutku.
Bahagia hati tiada dapat digambarkan, tetapi kebahagiaan ini belum berani aku sampaikan kepada ibu dan bapak karena menunggu kepastian hasil testpack nanti sore.
Sore hari menjelang aku pun langsung bergegas untuk beli testpack di apotek. Dan ternyata benar, menurut alat tersebut istriku memang benar positif hamil.

#

Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan berlalu. Keadaan fisik istriku semakin sering sakit ringan mulai dari sering mual dan muntah.
Anehnya lagi hidungnya pun semakin sensitif terhadap bau apapun, bahkan yang tidak tercium olehku dia dapat menciumnya.
Pada saat itu kudari bahwa perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan buah hati memang tidak mudah, yang pasti tiap hari harus menghadapi derita kondisi fisik yang sangat berat.
Akibat kehamilan ini banyak terjadi perubahan yang signifikan dalam hidup kami. Diantaranya pada istriku, karena saking ingin punya anak yang sholeh, sejak hamil setiap hari hidupnya pasti tidak lepas dari bacaan Al Qur'an.
Kejadian yang paling luar biasa menurutku saat masa kehamilan tujuh ke delapan bulan, waktu itu bertepatan dengan bulan puasa.
Subhanallah ... jabang bayi yang dikandungnya tidak pernah rewel saat diajak puasa, sehingga istriku pun kuat untuk melakukan puasa penuh sampai akhir Ramadhan. Dan inilah puasa pertama dalam hidupnya dapat utuh awal sampai akhir.
Bersamaan dengan keanehan itu, istriku bercerita bahwa dalam satu bulan ini, dia sudah menghatamkan Al quran tiga puluh juz.
Ya ... memang sesuatu yang diluar kebiasaan.
‘Kau jabang bayi pasti akan menjadi orang yang luar biasa nanti, Nak,' do'aku dalam batin.
Dua belas agustus dua ribu tiga belas, tepat jam setengah dua pagi bertepatan dengan tanggal satu Syawal. Selepas dari kamar mandi, dari rahim istriku muncul cairan putih pekat bercampur darah. Rasanya tidak sakit tetapi cairan itu tidak mau berhenti.
"Gimana ini, Mas?" tanya istriku bingung.
"Jam segini mana ada bidan yang buka, Dek?, kita tunggu agak pagi aja, buat tidur aja dulu, siapa tahu nanti sembuh," jawabku sambil menahan kantuk.
Setelah kejadian itu, yah ... namanya orang baru pertama hamil belum mengerti apapun, istriku pun tidur lagi.
setelah satu jam berlalu barulah aku berani bilang pada ibu bahwa istriku mengeluarkan cairan aneh bercampur darah.
"Cepet bawa ke bidan, tanda-tanda akan melahirkan itu, Nak!" perintah ibu.
Tanpa berlama-lama aku kembali ke kamar dan bersiap-siap menuju rumah bidan tempat periksa. Saking gugupnya tidak terasa kaki menendang dua botol bensin sampai pecah.
Sampai di rumah bidan, langsung diperiksa dan Bu bidan bilang, "Maaf Pak, ketuban ibu sudah pecah, ini harus dirujuk ke rumah sakit."
Kaget bukan kepalang, kami iyakan saja saran bu bidan. Tanpa persiapan apapun kami berdua pulang, sesampainya di rumah kami meminta izin ibu dan langsung berangkat menuju ke rumah sakit.
Sekitar jam setengah lima pagi jalanan terasa lengang, tiada satu pun kendaraan lewat, mungkin karena semua orang sibuk bersiap sholat Idul Fitri.
Mulut komat-kamit membaca do'a yang bisa dibaca, sambil menyetir motor kuselingi dengan senda gurau untuk menghilangkan gundah dalam hati istriku.
Setengah jam perjalanan kulewati, sampai di rumah sakit langsung disediakan kursi roda oleh perawat.
"Silahkan duduk, Bu!" pinta salah satu perawat.
Langsung dibawa ke ruang bersalin. Setelah melengkapi persaratan dan administrasi, tidak begitu lama kususul ke kamar.
Setelah keadaan agak tenang baru teringat bahwa mertua belum kukabari, bergegas langsung kutelpon dan sejurus kemudian mereka segera berangkat ke rumah sakit.

#

"Untung Bapak segera membawa ibu kesini, pecah ketuban itu bahaya lo, Pak! Apalagi kalau cairannya sampai habis, maka harus operasi," celetuk salah seorang perawat padaku.
'Astagfirullah ... Apa jadinya kalau tadi malam cairannya sampai habis, padahal tadi malam istriku kusuruh tidur lagi,' ucap dalam hati sambil mengelus dada ku sendiri.
Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda jabang bayi mau keluar, dengan persetujuan ku akhirnya bidan rumah sakit memberikan cairan perangsang agar bayi cepat keluar.
Tidak lama cairan perangsang dipasang bersama infus, terlihat wajah istriku mulai merasakan nyeri di perut sampai tembus punggung.
Semakin lama rasa nyeri itu semakin bertambah hebat, ikut menetes air mataku dan ibu mertua melihat penderitaannya.
"Allah ... Allah ... Allah ...," terucap berulang kali dari mulutnya.
"Semua yang menunggu dimohon keluar, agar tidak mengganggu proses persalinan!" ucap perawat.
Mau tidak mau, tega tidak tega kutinggalkan istriku di dalam ruang bersalin berjuang bersama para perawat.
Berat hati kulangkahkan kaki keluar ruangan, bersamaan dengan panggilan suara takbir yang menarik langkah kakiku menuju masjid sebelah rumah sakit.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... , laa ila ha illallah hu Allahu akbar, Allahu akbar wa lilla hi al hamd," panggilan suara takbir bilal masjid.
Di tengah barisan jama'ah sholat Idul Fitri, tanpa dapat dibendung berderai air mata, tangis bukan karena keharuan Idul Fitri, tapi tangis karena membayangkan perjuangan istriku.
Hati serasa sangat dekat sekali dengan Allah. Detik demi detik berisi lantunan do'a untuk keselamatan istri dan si jabang bayi. Jam delapan lebih seperempat selesailah rangkaian sholat Idul Fitri, kembali langkahku tertuju ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit terdengar erangan istriku menahan sakit, tidak tahan mendengarnya langsung aku menuju mushola rumah sakit untuk sholat dua rokaat dan berdo'a agar persalinan diberi kelancaran.
Selesai sholat langsung kembali menuju ruang bersalin. Tidak lama kemudian terdengarlah suara tangisan bayi dalam ruangan. Tanpa dikomando langsung kusungkurkan wajah ke ubin lantai rumah sakit, bersujud syukur atas kelahiran anak pertamaku.
Sejenak kemudian seorang perawat menggendong bayi mungil berbalut kain, seberat dua kilo tujuh ons dan panjang empat puluh tujuh centimeter.
"Selamat ... anak anda laki-laki, Pak," ucapnya santun.
"Makasih, Bu," sahutku.
Setelah melihat istriku sehat, segera kugendong bayi mungil itu, dan kulantunkan suara adzan yang tidak begitu merdu di telinganya. untung anak ini masih bayi, seumpama sudah besar, bisa berpikir, dan mendengar pasti dia bilang, “suara Bapak jelek.”
Beribu kegembiraan dan rasa syukur terlihat di seluruh wajah yang ada disana. Bapak, ibu, adik dan mertua semuanya bahagia. Berkah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini begitu terasa bagi kami sekeluarga.

‪#‎Kunjang‬-Kediri, 28-11-2015

Senin, 23 November 2015

Bapakku Superman

Oleh : AH. Burhanudin

Tidur panjang telah kulalui, tetiba terbelalak kedua mata, tanpa alasan jelas turut bangkit pula  kesadaran tentang rasa ketuhanan dalam hati. Seiring kumandang adzan subuh, semilir dingin angin merambat masuk mengusik ketenangan dua jasad manusia kesayanganku.
Beberapa detik berlalu, terdengar batuk menyayat hati seakan menahan beban berat kehidupan, seorang lelaki tua yang telah kenyang makan asam garam dunia, merasakan pahit getir kehidupan untuk membesarkan ke-tiga anaknya, siapakah dia?, tidak lain dan tidak bukan Dia adalah bapakku.
Bapak, mungkin namamu tidak semulia ibu, tidak seterkenal ibu yang sampai disebut oleh Nabi  tiga kali untuk kami hormati, bahkan surga pun diibaratkan ada di telapak kaki. Tetapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat untukmu, karena ku tahu sejarah perjuangan, kesulitan, dan kelelahanmu.
***
Pikiran aneh mulai terbang mengelana dalam balutan dingin udara pagi. Gejolak dalam hati mulai muncul, mencoba mengingat dan membuka kembali bukti  kemulyaan dan tanggung jawabmu kepada keluarga.
Lima belas tahun silam, Bapak adalah pribadi yang riang, murah senyum dan mudah dalam berkomunikasi dengan orang. Pengusaha telur dan peternak ayam broiler kelas menengah yang notabene bisa dibilang hampir setengah mapan. Namun, apa mau dikata untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, usaha peternakan yang telah dirintis sejak Aku belum lahir porak-poranda dalam hitungan hari.
Masih teringat jelas musibah itu, flu burung yang menjadi kambing hitam atas kematian sebagian ayam ternak kami, tetapi kulihat sosok pria tua itu tetap tegar dan sadar bahwa  itu hanya salah satu sebab yang diturunkan oleh Ilahi untuk menguji iman,  selanjutnya sisa ayam yang masih hidup dijual dan digunakan untuk membeli seekor sapi betina.
Babak baru dalam keluarga kami dimulai, bermodal motor butut yang tersisa sekarang bapak menjadi penjual telur keliling. Takdir mulai berubah, gaya hidup tetap sama tetapi sumber pemasukan berkurang, secara otomatis mengakibatkan  dapur rumah yang biasanya serba berkecukupan hari ini terasa sudah mulai goyah.
Ibu, wanita yang biasanya sangat tegar, kali ini  sangat terkena dampak musibah ini. Sosok yang biasanya terlihat tenang memikirkan kebutuhan sekolah dan hidup kami, sekarang  mulai memutar otak untuk mencukupi ekonomi keluarga.
Desakan kebutuhan dan tuntutan ekonomi memaksa  perempuan yang diciptakan penuh dengan kelembutan ini menyokong kehidupan ekonomi keluarga, berbekal hati yang tulus, beliau memutuskan bekerja sebagai buruh tani.
‘Kasih sayang Alloh pada kami sudah hilang,’ bersit di benakku saat itu.
***
Seperti biasa, Pagi itu bapak berangkat  berjualan, sekitar jam sepuluh siang seorang polisi datang kerumah mengabarkan pada ibu bahwa, bapak telah berada di rumah sakit karena kecelakaan. Bak disambar petir di siang bolong,  kabar itu semakin membuat susah hati wanita berhati suci ini. Musibah mengakibatkan  motor dan rombong jualan bapak hancur.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan keluarga kami, usaha sudah hancur mencoba berwirausaha kecil-kecilan pun tertimpa musibah pula.
Satu bulan berselang, luka fisik di tubuh bapak sudah agak membaik, tetapi nampak ada perubahan yang terjadi pada psikis Bapak, sekarang beliau tidak berani naik sepeda motor. 
‘Mungkin ini kehendak Alloh agar bapak beralih profesi.’ Gumamku dalam hati.
Wajah yang dulu tangguh dan penuh semangat sekarang terlihat mulai agak kusut dan kumal karena dihantam berbagai cobaan yang bertubi-tubi. dalam kondisi badan yang tertatih-tatih dan sisa-sisa tenaga, beliau tetap berusaha untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Modal keluarga yang ada sekarang tinggal seekor sapi, sepetak tanah sawah warisan kakek, dan sepeda ontel butut. Bapak  pria yang dari kecil terkenal pekerja keras ini tidak pantang menyerah, beliau bertahan dengan kesabaran, hingga beberapa tahun berlalu sapi yang dimiliki berjumlah lima ekor.
Kehidupan ekonomi keluarga mulai berjalan agak longgar, karena empat sapi milik bapak dijual dan dibelikan sepetak sawah milik tetangga. Alhamdulillah ... sawah yang dibeli dapat membantu ekonomi keluarga, dan ibu pun tidak perlu bekerja sebagai buruh tani lagi.
Seakan Allah mulai mengangkat cobaan bagi keluarga kami, beriringan pula dengan hal tersebut, Sekolahku pun telah tamat berarti satu beban ibu berkurang lagi. Itulah sebagian cerita keluarga kami. Bapak, lelaki tangguh bermental baja tak perduli apapun keadaan diri, yang terpenting kebutuhan anak dan istri bisa tercukupi.


Kamis, 05 November 2015

Melawan Takdir

Oleh : AH. BURHANUDIN
#ABN
Aku manusia berkelamin laki-laki, anak pertama dari tiga bersaudara, kondisi fisik sempurna dan In Syaa Allah berjiwa sehat.
Terlahir tiga puluh tahun lalu dari keluarga yang pas-pasan, hal itu berarti pas ada kebutuhan, pas itu pula bapak dan ibuku bingung untuk mencari pinjaman kebutuhan kasana-kemari.
Meskipun begitu, alhamdulillah aku mampu kuliah sampai jenjang pendidikan Diploma 2.
-
Kututurkan kisahku, dimulai saat lulus Sekolah Teknik Menengah(STM) atau yang saat ini dikenal dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan(SMK).
Berawal dari kehendak orang yang sudah susah payah melahirkannku, berharap sang putra dapat bersekolah di STM.
Pada masa itu telah terkenal bahwa semua lulusannya dapat langsung bekerja, sehingga dapat membantu keadaan ekonomi keluarga yang sedang mengalami kritis.
Umpama diibaratkan sebuah roda, mungkin saat itu kami sedang berada di posisi paling bawah, tertekan dan terpuruk sehingga untuk bergerak pun sulit, apalagi keluar dari kubangan lumpur kemiskinan yang melanda.
-
Tiga tahun pendidikan di STM terlalui, lulus dengan nilai cukup lumayan dibanding dengan teman-teman.
Berjuta harapan dan bayangan muncul mengenai dunia kerja, impian indah melintas di benak memberikan semangat untuk mengejarnya.
Satu bulan tidak bersekolah berlalu sudah namun, kondisi tidak bekerja masih terasa biasa, kuteruskan menggapai asa dengan berusaha mencoba melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan.
Namun, harapan ternyata tinggal menjadi harapan. Tiga bulan menanti lamaran kerja yang telah tersebar, ternyata tidak ada satu pun yang membalas.
Surut sudah harapanku untuk bekerja di perusahaan tempat yang aku lamar. Tetapi aku tidak putus asa dan berdiam diri.
'Aku tidak boleh menjadi pengangguran.' Gumam dalam hati.
Tekat membara seorang pemuda lugu yang belum begitu mengerti dan mengenal asam garam kehidupan, menggerakkan hati dan jiwa untuk mencari pekerjaan halal.
-
Kejarlah daku kau kutangkap sementara itulah yang ingin kutulis, perumpamaan yang terjadi tidak nyambung dengan bayangan.
Beberapa waktu kemudian, tiada disangka takdir berkata lain, malam itu paman mengenalkan dan memintaku bekerja pada salah seorang laki-laki yang pemilik bengkel sepeda motor di desaku.
Bak gayung bersambut, keinginan untuk bekerja telah beberapa bulan terpendam. Mendapat tawaran dari Paman, tanpa basa-basi langsung kuiyakan.
Gembira sekali rasa hati, ibarat kafilah tersesat di padang pasir mendapat sumber air segar disertai sejuknya hembusan angin dari surga.
Seminggu menjalani pekerjaan seorang montir sepeda motor, terasa aneh rasa dalam hati, timbul berbagai pikiran janggal dan macam-macam. diantaranya, “Kenapa pelajaran di sekolah yang telah kupelajari tidak ada yang cocok untuk dipakai disini?”
Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebab timbulnya kemelut dalam hati adalah karena selama hidup, mahluk yang bernama sepeda motor adalah sesuatu yang benar-benar baru bagiku.
-
Sejak balita sampai lulus STM belum pernah aku punya sepeda motor, lah ... apalagi mengendarai sepeda motor, dan tentunya satu paket juga, untuk mengetahui onderdil mahluk berbadan besi ini pun tidak ada yang kuketahui.
Kejadian ini bukan suatu kebetulan, tetapi alur berantai yang saling mendukung, dan salah satunya penyebab lagi karena jurusan sekolahku adalah mesin perkakas yang berhubungan dengan pembuatan mesin produksi dan rekayasa logam.
lucu memang, apa yang kita inginkan tidak selalu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Merasa tidak cocok dengan pekerjaan ini, kurang lebih tiga bulan aku bertahan dengan kebimbangan dalam hati, ahirnya keputusanku bulat untuk keluar dan berpamitan kepada pemilik bengkel dengan alasan merantau mengikuti saudara.
Lepas dari bengkel sepeda motor, kehidupan terus berjalan kuputuskan mengikuti saudara tetangga bekerja di kota.
-
Bertepatan awal bulan puasa, kulihat dan kurasakan para pekerja disampingku tidak ada yang sholat dan berpuasa.
Hal itulah yang membuat hatiku semakin sesak dan merasa terjebak dalam lingkungan yang sangat bertentangan dengan pendidikan dan ilmu agama yang kupelajari di pesantren.
Oh iya ... Agak terlupa ... sebelum ke kota, walaupun lulusan STM, dulu tiap sore lumayan agak lama aku mengikuti sekolah agama(Diniyah) pada salah satu pesantren di daerahku.
Tiga hari bertahan, ahirnya aku keluar juga dari pekerjaan, pulang ke desa menjadi pilihan utamaku, kembali pada kehidupan sebelumnya yaitu dunia “pengangguran”.
Melihat keadaan di rumah yang tidak seindah dunia dongeng, semakin yakin tekat dalam hatiku untuk membantu kedua orangtua mencukupi kebutuhan keluarga.
-
Jangan bosan dulu membacanya. Masih panjang kisah ini, tidak hanya berahir disini bahkan, mulai saat inilah kisah dimulai.
Rasa malu mulai menggelayuti perasaan seorang pemuda lulusan sekolah teknik yang bergelar “pengangguran.”
Ya ... untuk sementara, itulah julukanku saat ini. Lelah sudah rasanya hati mencari jati diri, putus asa mulai menghantui diri, tanpa banyak alasan dan pertimbangan, muncul niat dalam hati untuk membantu bapak menggarap sedikit sawah yang ada.
Takdir memang aneh, padahal kalau dipikir pekerjaan menjadi seorang petani adalah pekerjaan yang sangat kubenci, tidak pernah ada sedikit pun cita-cita sejak kecil untuk menjalani profesi ini.
-
Kehidupanku berubah drastis, mulai dari seorang remaja lulusan STM penuh mimpi dan harapan, sampai pekerja yang belum siap mental dan berahir menjadi seorang petani, ya ... mau tidak mau itulah aku saat ini.
Menjalani kehidupan sebagai seorang petani pemula tidak mudah, hal utama yang menjadi musuh bagiku adalah berhadapan dengan panas teriknya matahari.
'Hebat benar bapakku, sekian tahun bertahan menderita berpanas-panas di bawah terik matahari demi menghidupi keluarga.' Gumamku dalam hati seraya memandang iba tubuh renta di depan mata.
-
Tanpa terasa, profesi ini telah kujalani hampir tiga tahun lamanya, hingga pada suatu sore terjadi peristiwa yang mengubah segalanya.
Hamim-teman sekaligus tetanggaku mengajak mencari hiburan di Pare, kota terdekat yang biasa dipakai nongkrong di daerahku.
“Din, hidup kita ini kalo Aku rasakan kok gini-gini aja, ya?” ceracau Hamim mengajakku bicara.
“Lah ... memang Kamu mau hidup yang model bagaimana lagi to, Mim ..., kurang enak kayak apa lagi kita ini, puya pekerjaan rutin, kantor tetap dan tidak diperintah orang ha ... ha ... ha ...” jawabku sekenanya untuk menghibur diri dari kesulitan hidup.
“Isok ae kon(Bisa saja kau), Din ... gini loh... Aku kemarin udah daftar sekolah lagi, tapi gak usah ngomong-ngomong orang, ya ...!” terasa agak kaget aku mendengar ocehan Hamim.
“Sekolah apa, Mim?” tanyaku penasaran.
“Ya pokok e sekolah kuliyah, Din ..., piye awakmu melu a?(bahasa khas kotaku yang berarti “gimana kamu mau ikut ta?”)
“Wah ... tak pikir-pikir dulu, iya kamu punya sawah luas dan kedaan ekonomi lancar, la aku ... anak orang gak punya, Mim ... Kasihan sama ibu dan bapak, adik-adik masih kecil lagi, masih perlu banyak biaya untuk sekolah.” Jawabku sambil berangan-angan dalam hati.
-
Beberapa hari setelah peristiwa itu berlalu, tiba-tiba muncul dalam benakku untuk ikut kuliah Hamim, hemm ... entah angin apa yang merasuki hatiku.
Tanpa berpikir panjang pada suatu sore kuberanikan diri untuk meminta ijin ibu, kuceritakan dan kuutarakan angan-angan dalam hati untuk kuliah bersama Hamim, sontak orang tua itu kaget bukan kepalang.
“Ngomong apa kau, Din ... Untuk sekolah adikmu saja kita sudah kewalahan mencari biaya, ini ... tiba-tiba kamu malah mau kuliah lagi, dapat uang darimana lagi untuk membayar?” jawab ibu dengan nada agak tinggi.
Tergetar rasa jiwaku, ingin menetes rasanya air mata ini mendengar ucapan ibu tetapi, kutahan tangisku dalam-dalam untuk menghormati beliau.
lagi-lagi uanglah yang menjadi masalah bagi orang miskin seperti aku, mungkin hal ini juga dirasakan anak-anak seluruh pelosok negeri ini. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ada tetapi uang yang menjadi kendalanya.
-
Dasar aku keras kepala, jika punya keinginan haruslah tercapai meskipun, dengan berbagai cara. kucari ide agar usaha untuk kuliah diijinkan oleh ibu.
Sambil mencangkul di sawah, tiba-tiba muncul ide di kepala menanam sayuran yang dapat dijual setiap hari untuk keperluan membayar kuliah.
Alhamdulillah ... beberapa kali menanam sayur, hasilnya lumayan sehingga dapat dinikmati keluarga. Sebagian uang hasil penjualan ku kumpulkan untuk bekal tabungan.
Angin segar mulai berhembus, hatiku agak lega punya penghasilan dari tanaman yang kutanam. Seperti rencana semula, hasil tanaman kugunakan sebagai modal untuk memohon ijin pada ibu agar meloloskan keinginan untuk kuliah.
-
“Bu ... hasil tanamanku tiap hari sudah cukup lumayan, lo...” gurauku memancing ibu.
“La terus ada apa to, le? Apa Kamu sudah mau nikah” ibu menyahuti pancinganku.
Terbahak-bahak mendengar jawaban ibu, serasa mendapat kesempatan, tanpa berlama-lama aku sahut langsung perkataan ibu, “Dulu kan aku pernah pengen kuliah, kurasa hasil dari kebun sudah cukup untuk biaya dan keperluan kuliah lo, Bu ...”
“Yo wis to, le ... bila benar keinginanmu itu sungguh-sungguh, ibumu ini hanya bisa merestui dan mendo”akan semoga tercapai keinginanmu.” Jawaban ibu kali ini merdu terdengar.
Bak mendapat satu karung emas, gembiraku tidak dapat terungkapkan dengan kata-kata, tanpa menunggu berlama-lama langsung kusalami dan kucium tangan ibu.
-
Belajar di bangku kuliah itulah kegiatan baru saat ini. Berjuang melawan takdir mungkin itulah ungkapan yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
Kemiskinan yang melanda tidak menghentikan dan mengecilkan niat melanjutkan pendidikan.
Dua tahun terlampaui, jerih payah ini ahirnya terbayar juga dengan kelulusan dan wisuda.
Bangga orangtuaku melihat putranya diwisuda, layaknya anak orang-orang kaya yang berpendidikan di desaku. Walau pun lulusnya dengan nilai Indek Prestasi Komulatif 2,9.
Tidak begitu besar memang, tetapi sudah sangat bersukur aku bisa lulus dan mendapat IPK itu.
Anugrah yang sangat luar biasa bagi pemuda miskin yang notabene hanya lulusan STM.
.
Seiring berahirnya cerita. Sebagai penutup dan pengingat dikala kita telah melampaui keinginan dan cita-cita. Janganlah lupa bersyukur.
Semua yang terjadi tidak serta merta atas kegigihan usaha kita sendiri.
Semua rencana yang terlaksana ada campur tangan Alloh disana, ingat sindiran Alloh pada kita, "Nikmat mana lagi yang Kau dustakan?"
‪#‎Kunjang‬-Kediri, 301015

Rabu, 28 Oktober 2015

Nenek dan Asap

Oleh : AH. BURHANUDIN
"Alhamdulillah, ahirnya kau turunkan hujan, Ya Alloh ...," bisik wanita yang telah lelah melewati kehidupan selama 60 tahun.
Amanah-nenekku, hatinya gundah hanya bisa pasrah setelah berminggu-minggu sawah sepetaknya tidak mendapat air.
Musim ini merupakan musim baru bagi Indonesia, setelah ada musim hujan, musim kemarau dan saat ini muncul musim asap.
Sempat bangsa ini dibuat bingung oleh mahkluk yang disebut asap, sampai manusia sekelas presiden pun dibuat pusing delapan keliling olehnya.
Berbondong-bondong negara tetangga berbelas kasihan, berusaha menghilangkan hasil karya monumental bangsa besar kita, dalam hati kecil berbisik, "Subhanalloh ... ahirnya ada salah satu karya anak bangsa yang Go-Internasional membuat negara kita disegani negara tetangga, kita patut "berbangga" karna berpuluh-puluh tahun kita tidak menghasilkan produk yang dikenal dunia."
Namun, apalah daya semua usaha yang dilakukan ibarat pungguk merindukan bulan atau dalam kata lain ibarat pepatah asam digunung dan garam di laut, apa artinya itu? Artinya kedua pepatah yang saya buat tidak ada yang nyambung dengan keadaan yang terjadi. Ya ... memang itulah yang saya maksud, semua usaha yang dilakukan tidak ada yang nyambung dengan inti masalah sebenarnya.
Koin demi koin pernah juga dikumpulkan rakyat untuk membantu pemerintah menghilangkan Asap, mungkin terutama Asap yang berada di hati para pemimpin negeri ini yang mulai menjadikan beliau-beliau tertutupi sanubarinya. bahkan kabut asap ini meracuni nurani Bapak kami dalam membuat kebijakan sehingga hasilnya pun menyesakkan dada rakyat, namun, apalah daya koin itu juga tidak berguna. Si Asap malah meraja lela. Memang bandel benar mahluk ini.
Ya ... Mungkin Alloh belum ingin menghilangkan asap ini dari negeri kita, karena ingin menunjukan pada kita bahwa inilah kita, seonggok tulang yang berbalut daging tidak punya daya dan upaya.
Meskipun berkumpul manusia sedunia untuk memadamkan asap, jika Alloh tidak mengijinkan padam niscaya tidak padam itu asap.
Seiring turunnya hujan sore, harapan baru telah datang, kulihat senyuman bahagia di hati Nenek. Penuh harap dan do'a, "Tidak banyak pintaku kepadamu Ya Alloh, selamatkan anak cucuku dan negeri ini"

‪#‎Kunjang‬-kediri, 281015

Selasa, 29 September 2015

Bapakku Superman

Oleh: AH. BUHANUDIN

Tidur panjang telah kulalui, tetiba terbelalak kedua mata, tanpa alasan jelas turut bangkit pula  kesadaran tentang rasa ketuhanan dalam hati.

Seiring kumandang adzan subuh, semilir dingin angin merambat masuk mengusik ketenangan dua jasad manusia kesayanganku.

Beberapa detik berlalu, terdengar batuk yang menyayat hati seakan menahan beban berat kehidupan, seorang lelaki tua yang telah kenyang makan asam garam dunia, merasakan pahit getir kehidupan untuk membesarkan ke-tiga anaknya, siapakah dia?, tidak lain dan tidak bukan Dia adalah bapakku.

Bapak, mungkin namamu tidak semulia ibu, tidak seterkenal Ibu yang sampai disebut oleh Nabi  tiga kali untuk kami hormati, bahkan surga pun diibaratkan ada di telapak kaki. Tetapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat untukmu, karena ku tahu sejarah perjuangan, kesulitan, dan kelelahanmu.

***

Pikiran aneh mulai terbang mengelana dalam balutan dingin udara pagi.
Gejolak dalam hati mulai muncul, mencoba mengingat dan membuka kembali bukti  kemulyaan dan tanggung jawabmu kepada keluarga.

Lima belas tahun silam, Bapak adalah pribadi yang riang, murah senyum dan mudah dalam berkomunikasi dengan orang.

Pengusaha telur dan peternak ayam broiler kelas menengah yang notabene bisa dibilang hampir setengah mapan. Namun, apa mau dikata untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak, usaha peternakan yang telah dirintis sejak Aku belum lahir porak-poranda dalam hitungan hari.

Masih teringat jelas musibah itu, flu burung yang menjadi kambing hitam atas kematian sebagian ayam ternak kami, tetapi kulihat sosok pria tua itu tetap tegar dan sadar bahwa,  itu hanya salah satu sebab yang diturunkan oleh Ilahi untuk menguji iman,  selanjutnya sisa ayam yang masih hidup dijual dan digunakan untuk membeli seekor sapi betina.

Babak baru dalam keluarga kami dimulai, bermodal motor butut yang tersisa, sekarang bapak menjadi penjual telur keliling. Takdir mulai berubah, gaya hidup tetap sama tetapi sumber pemasukan berkurang, secara otomatis mengakibatkan  dapur rumah yang biasanya serba berkecukupan hari ini terasa sudah mulai goyah.

Ibu, wanita yang biasanya sangat tegar, kali ini  sangat terkena dampak musibah ini, sosok yang biasanya terlihat tenang memikirkan kebutuhan sekolah dan hidup kami, sekarang  mulai memutar otak untuk mencukupi ekonomi keluarga.

Desakan kebutuhan dan tuntutan ekonomi memaksa  perempuan yang diciptakan penuh dengan kelembutan ini menyokong kehidupan ekonomi keluarga, berbekal hati yang tulus, beliau memutuskan bekerja sebagai buruh tani.

"Kasih sayang Alloh pada kami sudah hilang," itulah yang terbersit di benakku saat itu.

***

Seperti biasa, Pagi itu Bapak berangkat  berjualan, sekitar jam sepuluh siang seorang polisi datang kerumah, mengabarkan pada Ibu bahwa, bapak telah berada di rumah sakit karena kecelakaan. Bak disambar petir di siang bolong,  kabar itu semakin membuat susah hati wanita berhati suci ini. Musibah mengakibatkan  motor dan rombong jualan Bapak hancur.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan keluarga kami, usaha sudah hancur mencoba berwirausaha kecil-kecilan pun tertimpa musibah pula.

Satu bulan berselang, luka fisik di tubuh bapak sudah agak membaik, tetapi nampak ada perubahan yang terjadi pada psikis Bapak, sekarang beliau tidak berani naik sepeda motor.
"Mungkin ini kehendak Alloh agar bapak beralih profesi." Gumamku dalam hati.

Wajah yang dulu tangguh dan penuh semangat sekarang terlihat mulai agak kusut dan kumal tertimpa cobaan yang bertubi-tubi. dalam kondisi badan yang tertatih-tatih dan sisa-sisa tenaga Beliau tetap berusaha untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Modal keluarga yang ada sekarang tinggal seekor sapi, sepetak tanah sawah warisan kakek dan sepeda ontel butut.

Bapak, pria yang dari kecil terkenal pekerja keras ini tidak pantang menyerah, beliau bertahan dengan kesabaran, hingga beberapa tahun berlalu sapi yang dimiliki berjumlah lima ekor.

Kehidupan ekonomi keluarga mulai berjalan agak longgar, karena empat sapi milik Bapak dijual dan dibelikan sepetak sawah milik tetangga. Sawah yang dibeli cukup membantu ekonomi keluarga dan Ibu pin tidak perlu bekerja sebagai buruh tani.

Seakan Alloh mulai mengangkat cobaan bagi keluarga kami, beriringan pula dengan hal tersebut, Sekolahku telah tamat berarti satu beban Ibu pun berkurang lagi.

Itulah sebagian cerita keluarga kami, Bapak, lelaki tangguh bermental baja tak perduli apapun keadaan diri, yang terpenting kebutuhan anak dan istri bisa tercukupi.

End
Kediri, 290915