Kamis, 05 November 2015

Melawan Takdir

Oleh : AH. BURHANUDIN
#ABN
Aku manusia berkelamin laki-laki, anak pertama dari tiga bersaudara, kondisi fisik sempurna dan In Syaa Allah berjiwa sehat.
Terlahir tiga puluh tahun lalu dari keluarga yang pas-pasan, hal itu berarti pas ada kebutuhan, pas itu pula bapak dan ibuku bingung untuk mencari pinjaman kebutuhan kasana-kemari.
Meskipun begitu, alhamdulillah aku mampu kuliah sampai jenjang pendidikan Diploma 2.
-
Kututurkan kisahku, dimulai saat lulus Sekolah Teknik Menengah(STM) atau yang saat ini dikenal dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan(SMK).
Berawal dari kehendak orang yang sudah susah payah melahirkannku, berharap sang putra dapat bersekolah di STM.
Pada masa itu telah terkenal bahwa semua lulusannya dapat langsung bekerja, sehingga dapat membantu keadaan ekonomi keluarga yang sedang mengalami kritis.
Umpama diibaratkan sebuah roda, mungkin saat itu kami sedang berada di posisi paling bawah, tertekan dan terpuruk sehingga untuk bergerak pun sulit, apalagi keluar dari kubangan lumpur kemiskinan yang melanda.
-
Tiga tahun pendidikan di STM terlalui, lulus dengan nilai cukup lumayan dibanding dengan teman-teman.
Berjuta harapan dan bayangan muncul mengenai dunia kerja, impian indah melintas di benak memberikan semangat untuk mengejarnya.
Satu bulan tidak bersekolah berlalu sudah namun, kondisi tidak bekerja masih terasa biasa, kuteruskan menggapai asa dengan berusaha mencoba melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan.
Namun, harapan ternyata tinggal menjadi harapan. Tiga bulan menanti lamaran kerja yang telah tersebar, ternyata tidak ada satu pun yang membalas.
Surut sudah harapanku untuk bekerja di perusahaan tempat yang aku lamar. Tetapi aku tidak putus asa dan berdiam diri.
'Aku tidak boleh menjadi pengangguran.' Gumam dalam hati.
Tekat membara seorang pemuda lugu yang belum begitu mengerti dan mengenal asam garam kehidupan, menggerakkan hati dan jiwa untuk mencari pekerjaan halal.
-
Kejarlah daku kau kutangkap sementara itulah yang ingin kutulis, perumpamaan yang terjadi tidak nyambung dengan bayangan.
Beberapa waktu kemudian, tiada disangka takdir berkata lain, malam itu paman mengenalkan dan memintaku bekerja pada salah seorang laki-laki yang pemilik bengkel sepeda motor di desaku.
Bak gayung bersambut, keinginan untuk bekerja telah beberapa bulan terpendam. Mendapat tawaran dari Paman, tanpa basa-basi langsung kuiyakan.
Gembira sekali rasa hati, ibarat kafilah tersesat di padang pasir mendapat sumber air segar disertai sejuknya hembusan angin dari surga.
Seminggu menjalani pekerjaan seorang montir sepeda motor, terasa aneh rasa dalam hati, timbul berbagai pikiran janggal dan macam-macam. diantaranya, “Kenapa pelajaran di sekolah yang telah kupelajari tidak ada yang cocok untuk dipakai disini?”
Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebab timbulnya kemelut dalam hati adalah karena selama hidup, mahluk yang bernama sepeda motor adalah sesuatu yang benar-benar baru bagiku.
-
Sejak balita sampai lulus STM belum pernah aku punya sepeda motor, lah ... apalagi mengendarai sepeda motor, dan tentunya satu paket juga, untuk mengetahui onderdil mahluk berbadan besi ini pun tidak ada yang kuketahui.
Kejadian ini bukan suatu kebetulan, tetapi alur berantai yang saling mendukung, dan salah satunya penyebab lagi karena jurusan sekolahku adalah mesin perkakas yang berhubungan dengan pembuatan mesin produksi dan rekayasa logam.
lucu memang, apa yang kita inginkan tidak selalu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Merasa tidak cocok dengan pekerjaan ini, kurang lebih tiga bulan aku bertahan dengan kebimbangan dalam hati, ahirnya keputusanku bulat untuk keluar dan berpamitan kepada pemilik bengkel dengan alasan merantau mengikuti saudara.
Lepas dari bengkel sepeda motor, kehidupan terus berjalan kuputuskan mengikuti saudara tetangga bekerja di kota.
-
Bertepatan awal bulan puasa, kulihat dan kurasakan para pekerja disampingku tidak ada yang sholat dan berpuasa.
Hal itulah yang membuat hatiku semakin sesak dan merasa terjebak dalam lingkungan yang sangat bertentangan dengan pendidikan dan ilmu agama yang kupelajari di pesantren.
Oh iya ... Agak terlupa ... sebelum ke kota, walaupun lulusan STM, dulu tiap sore lumayan agak lama aku mengikuti sekolah agama(Diniyah) pada salah satu pesantren di daerahku.
Tiga hari bertahan, ahirnya aku keluar juga dari pekerjaan, pulang ke desa menjadi pilihan utamaku, kembali pada kehidupan sebelumnya yaitu dunia “pengangguran”.
Melihat keadaan di rumah yang tidak seindah dunia dongeng, semakin yakin tekat dalam hatiku untuk membantu kedua orangtua mencukupi kebutuhan keluarga.
-
Jangan bosan dulu membacanya. Masih panjang kisah ini, tidak hanya berahir disini bahkan, mulai saat inilah kisah dimulai.
Rasa malu mulai menggelayuti perasaan seorang pemuda lulusan sekolah teknik yang bergelar “pengangguran.”
Ya ... untuk sementara, itulah julukanku saat ini. Lelah sudah rasanya hati mencari jati diri, putus asa mulai menghantui diri, tanpa banyak alasan dan pertimbangan, muncul niat dalam hati untuk membantu bapak menggarap sedikit sawah yang ada.
Takdir memang aneh, padahal kalau dipikir pekerjaan menjadi seorang petani adalah pekerjaan yang sangat kubenci, tidak pernah ada sedikit pun cita-cita sejak kecil untuk menjalani profesi ini.
-
Kehidupanku berubah drastis, mulai dari seorang remaja lulusan STM penuh mimpi dan harapan, sampai pekerja yang belum siap mental dan berahir menjadi seorang petani, ya ... mau tidak mau itulah aku saat ini.
Menjalani kehidupan sebagai seorang petani pemula tidak mudah, hal utama yang menjadi musuh bagiku adalah berhadapan dengan panas teriknya matahari.
'Hebat benar bapakku, sekian tahun bertahan menderita berpanas-panas di bawah terik matahari demi menghidupi keluarga.' Gumamku dalam hati seraya memandang iba tubuh renta di depan mata.
-
Tanpa terasa, profesi ini telah kujalani hampir tiga tahun lamanya, hingga pada suatu sore terjadi peristiwa yang mengubah segalanya.
Hamim-teman sekaligus tetanggaku mengajak mencari hiburan di Pare, kota terdekat yang biasa dipakai nongkrong di daerahku.
“Din, hidup kita ini kalo Aku rasakan kok gini-gini aja, ya?” ceracau Hamim mengajakku bicara.
“Lah ... memang Kamu mau hidup yang model bagaimana lagi to, Mim ..., kurang enak kayak apa lagi kita ini, puya pekerjaan rutin, kantor tetap dan tidak diperintah orang ha ... ha ... ha ...” jawabku sekenanya untuk menghibur diri dari kesulitan hidup.
“Isok ae kon(Bisa saja kau), Din ... gini loh... Aku kemarin udah daftar sekolah lagi, tapi gak usah ngomong-ngomong orang, ya ...!” terasa agak kaget aku mendengar ocehan Hamim.
“Sekolah apa, Mim?” tanyaku penasaran.
“Ya pokok e sekolah kuliyah, Din ..., piye awakmu melu a?(bahasa khas kotaku yang berarti “gimana kamu mau ikut ta?”)
“Wah ... tak pikir-pikir dulu, iya kamu punya sawah luas dan kedaan ekonomi lancar, la aku ... anak orang gak punya, Mim ... Kasihan sama ibu dan bapak, adik-adik masih kecil lagi, masih perlu banyak biaya untuk sekolah.” Jawabku sambil berangan-angan dalam hati.
-
Beberapa hari setelah peristiwa itu berlalu, tiba-tiba muncul dalam benakku untuk ikut kuliah Hamim, hemm ... entah angin apa yang merasuki hatiku.
Tanpa berpikir panjang pada suatu sore kuberanikan diri untuk meminta ijin ibu, kuceritakan dan kuutarakan angan-angan dalam hati untuk kuliah bersama Hamim, sontak orang tua itu kaget bukan kepalang.
“Ngomong apa kau, Din ... Untuk sekolah adikmu saja kita sudah kewalahan mencari biaya, ini ... tiba-tiba kamu malah mau kuliah lagi, dapat uang darimana lagi untuk membayar?” jawab ibu dengan nada agak tinggi.
Tergetar rasa jiwaku, ingin menetes rasanya air mata ini mendengar ucapan ibu tetapi, kutahan tangisku dalam-dalam untuk menghormati beliau.
lagi-lagi uanglah yang menjadi masalah bagi orang miskin seperti aku, mungkin hal ini juga dirasakan anak-anak seluruh pelosok negeri ini. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ada tetapi uang yang menjadi kendalanya.
-
Dasar aku keras kepala, jika punya keinginan haruslah tercapai meskipun, dengan berbagai cara. kucari ide agar usaha untuk kuliah diijinkan oleh ibu.
Sambil mencangkul di sawah, tiba-tiba muncul ide di kepala menanam sayuran yang dapat dijual setiap hari untuk keperluan membayar kuliah.
Alhamdulillah ... beberapa kali menanam sayur, hasilnya lumayan sehingga dapat dinikmati keluarga. Sebagian uang hasil penjualan ku kumpulkan untuk bekal tabungan.
Angin segar mulai berhembus, hatiku agak lega punya penghasilan dari tanaman yang kutanam. Seperti rencana semula, hasil tanaman kugunakan sebagai modal untuk memohon ijin pada ibu agar meloloskan keinginan untuk kuliah.
-
“Bu ... hasil tanamanku tiap hari sudah cukup lumayan, lo...” gurauku memancing ibu.
“La terus ada apa to, le? Apa Kamu sudah mau nikah” ibu menyahuti pancinganku.
Terbahak-bahak mendengar jawaban ibu, serasa mendapat kesempatan, tanpa berlama-lama aku sahut langsung perkataan ibu, “Dulu kan aku pernah pengen kuliah, kurasa hasil dari kebun sudah cukup untuk biaya dan keperluan kuliah lo, Bu ...”
“Yo wis to, le ... bila benar keinginanmu itu sungguh-sungguh, ibumu ini hanya bisa merestui dan mendo”akan semoga tercapai keinginanmu.” Jawaban ibu kali ini merdu terdengar.
Bak mendapat satu karung emas, gembiraku tidak dapat terungkapkan dengan kata-kata, tanpa menunggu berlama-lama langsung kusalami dan kucium tangan ibu.
-
Belajar di bangku kuliah itulah kegiatan baru saat ini. Berjuang melawan takdir mungkin itulah ungkapan yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
Kemiskinan yang melanda tidak menghentikan dan mengecilkan niat melanjutkan pendidikan.
Dua tahun terlampaui, jerih payah ini ahirnya terbayar juga dengan kelulusan dan wisuda.
Bangga orangtuaku melihat putranya diwisuda, layaknya anak orang-orang kaya yang berpendidikan di desaku. Walau pun lulusnya dengan nilai Indek Prestasi Komulatif 2,9.
Tidak begitu besar memang, tetapi sudah sangat bersukur aku bisa lulus dan mendapat IPK itu.
Anugrah yang sangat luar biasa bagi pemuda miskin yang notabene hanya lulusan STM.
.
Seiring berahirnya cerita. Sebagai penutup dan pengingat dikala kita telah melampaui keinginan dan cita-cita. Janganlah lupa bersyukur.
Semua yang terjadi tidak serta merta atas kegigihan usaha kita sendiri.
Semua rencana yang terlaksana ada campur tangan Alloh disana, ingat sindiran Alloh pada kita, "Nikmat mana lagi yang Kau dustakan?"
‪#‎Kunjang‬-Kediri, 301015

2 komentar:

  1. Semoga Allah swt memberkahi...aamiiin...

    BalasHapus
  2. amin... semoga Alloh memberkahi kita semua, makasih Ustad Ary...

    BalasHapus